Ketua Prodi D3 Keperawatan Diperiksa Polisi

Prodi DIII Keperawatan UniboKabarBondowoso.Com - Kasus dugaan penyalahgunaan wewenang terkait terbitnya ijazah D3 Keperawatan Universitas Bondowoso (Unibo) terus diusut polisi. Kemarin, penyidik Reskrim Polres Bondowoso memanggil Ketua Prodi D3 Keperawatan Yuana Dwi Agustin untuk dimintai keterangannya.

Namun, sejuah ini status Yuana Dwi Agustin masih sebagai saksi. Hal ini diungkapkan AKP Bambang Setiawan SH, Kasatreskrim Polres Bondowoso. Menurutnya, pemanggilan kemarin fokus pertanyaan terkait dengan kronologi terbitnya ijazah D3 keperawatan yang dikeluarkan Ketua Prodi D3 Keperawatan tersebut.

“Untuk sementara, dia (Yuana Dwi Agustin, red) statusnya diperiksa sebagai saksi yang menyakan terkait kronologi terbitnya ijazah,” ujar AKP Bambang Setiawan SH, Kasatreskrim Polres Bondowoso saat dikonfirmasi wartawan kemarin.

Bambang Setiawan mengatakan, untuk mengetahui lebih jauh terkait apakah penandatangan ijazah berikut penerbitannya itu melanggar Undang-undang, pihaknya masih akan mendatangkan ahli.

“Beberapa hari ke depan kita juga akan meminta keterangan ahli dari pihak Kopertis,” ungkapnya.

Yuana sebagai Ketua Prodi D3 Keperawatan Unibo dilaporkan atas dugaan penandatangan dan penerbitan Ijazah. Dalam kronologi laporan kepada polisi, dijelaskan bahwa kasus tersebut bermula saat 29 Desember 2012 pihak Universitas di bawah kendali rektor Unibo Eddy Basuki melaksanakan Wisuda untuk mahasiswa S1 dan D3 Keperawatan.

Selanjutnya, pada tanggal 9 Desember 2012, pihak prodi D3 Keperawatan mengeluarkan ijazah yang ditandatangani oleh Dr Donald Pardede, perwakilan dari kementerian kesehatan dan Yuana Dwi Agustin, Kaprodi D3 Keperawatan. Padahal, sesuai dengan aturan, seharusnya ijazah ditandatangani oleh rektor dan dekan.

Polisi menjelaskan apa yang dilakukan oleh Yuana tersebut diduga melanggar UU nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi khususnya pasal 28, 42, 43 dan 44. Hal itu masuk dalam kategori Pidana dan bias dijerat dengan pasal 93 UU 12/2012 tersebut dengan ancaman 10 tahun penjara atau denda Rp 1 miliar.

Sebelumnya, sejumlah saksi korban dalam kasus tersebut juga telah menjalani pemeriksaan di Polres Bondowoso. Dari puluhan alumni D3 Keperawatan yang menerima Ijazah, ada tiga orang yang menjalani pemeriksaan di polres sebagai saksi korban. Mereka di antaranya adalah Rois Asad Zeki, 24, Yulian Dwi Hastanto, 21 serta Bijak Elbar, 24. Ketiganya adalah alumni D3 Keperawatan yang diwisuda akhir 2012 lalu.

Rois, salah satu saksi korban mengungkapkan, pihaknya menjelaskan kepada pihak kepolisian terkait dengan ijazah yang diterimanya. Dia merasa dirugikan karena ijazah tersebut tidak diterima oleh instansi atau pun lembaga saat melamar pekerjaan. Hal itu karena keabsahan ijazah diragukan mengingat ditantangani oleh yang bukan berwenang.

Sementara pihak Kopertis Wilayah VII Jatim juga telah menegaskan bahwa ijazah yang dikeluarkan oleh D3 Keperawatan Unibo tidak sah. Bahkan pihak Kopertis juga mengintruksikan kepada rektor Unibo, yaitu Drs Eddy Basuki untuk menarik kembali ijazah dan mengganti sesuai dengan prosedur yang ada. (s1p/gho)

  1. Kasihan Mahasiswa kalau begini, untuk adik-adik lulusan SMA/sederajat yang ingin kuliah silahkan kuliah di luar unibo karena unibo banyak masalah sepert 2 nahkoda satu perahu ditambah lagi ijazah D3 keperawatan yang tidak Syah

    Reply
  2. saya sebagai salah satu alumni DIII Keperawatan angkatan ke I jg sangat prihatin ats peristiwa ini. lain kli jka melangkah harus hati2 ya…

    Reply
  3. dulu g seruwet ini. tpi tetap saja banyak masalah….

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *